jenuh

sekarang kami sejauh bumi dan matahari

sekarang kami sudah tak tahu harus berbincang apa lagi

semua terasa dingin penuh dengan gigil

tak merasa ada yang perlu dijelaskan

kami sudahi memberi kabar masing-masing

lebih baik lepas dan berjalan sendirian

karena ternyata bersama tak berujung dengan kekompakan

kamu dengan pikiranmu, aku dengan pembenaran sikapku

berdua tak lagi seirama, kami hanya menunggu waktu yang semakin lama semakin membunuh

jenuh

berjalan sendirian lebih baik hingga suatu saat nanti kita temukan satu sama lain lebih bahagia dari hari ini

buat apa berdua jika sendiri saja sudah bahagia?

pongah

2020 sudah mau berakhir

tak terasa waktu berlalu begitu cepat

baru kemarin aku denganmu berbincang sebentar, tahu-tahu sudah desember tanggal dua saja.

setahun.

masih ingat tahun lalu? entah bagaimana akhirnya kita menyelesaikan kesalahpahaman yang ada di antara kita.

tahun ini memberi warna tersendiri, banyak.

seimbang antara suka dan duka. pintar-pintarnya kita untuk bersyukur saja.

11:11 saat kumenulis ini, tak terasa kulihat jam, jam kembar.

aku yang selalu ngetwit tentang jam kembar katamu.

aku yang dikit-dikit percaya semesta

aku yang suka sekali lagu-lagu indie, aroma petrichor, dan ketenangan yang luar biasa.

kau yang tahu isi kepalaku riuh. segala overthinkingku kau atasi dengan baik.

setahun ini berlalu dan ternyata masih sama.

aku yang dulu selalu mempost banyak hal, sekarang mulai berkurang, banyak. invisible itu menenangkan.

mengurangi sosial mediaku, agar tak melulu keracunan hal-hal yang tak perlu. hingga akhirnya aku paham, aku menemukan ruang.

bertemu teman lebih baik daripada kau sendirian, katamu.

2020 ini mengubah aku dan perspektifku, banyak. benar-benar banyak hal.

aku menyukainya, karena aku bertumbuh, bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik, alhamdulillah. sekelilingku pun baik.

2020 boleh berakhir, 2021 mari kita sambut dengan sewajarnya.

Pada akhirnya…

Pada akhirnya kita akan mengerti, semesta kita sudah berputar sesuai porosnya atau belum.

Semua kita kembalikan kepada Semesta, karena dialah yang akan menuntun kita dengan benar.

Jika berbicara pola, kamu sudah selesai dengan dirimu dan duniamu mulai membaik karenanya.

maka kamu akan menemukan jalan mana yang akan menuntunmu ke sini, menujuku.

Percayalah, ke manapun kamu pergi, rumahmu di sini. hatiku.

Ego kita masih tinggi

Ternyata, Ego kita masih tinggi

Seringkali kita menjadi saling menyakiti

Padahal aku yakin maksudnya bukan itu

Tidak semua hal yang terjadi harus ada penjelasannya kan?

Semestaku, semestamu akankah menjadi satu?

Seandainya saja kita mau mengalah pada apa-apa yang ditakdirkan untuk kita

Seandainya saja kita mau berbesar sabar pada apa-apa yang telah disiapkan semesta

Di sini, aku nggak berani untuk gambling mengikuti feeling dan intuisiku

Kamu, orang yang sulit untuk kutebak sekali waktu.

Kutahu, ini saatnya untukku pergi. Maaf.

Hello May

Hai Mei,

Sudah tanggal 4, dan apa kabarmu? Semoga bulan ini segera membaik ya. Atas semua hal yang terjadi di bulan lalu semoga bisa menjadi pembelajaran.

Maaf, mungkin aku sedang merasa entah, berjauhan denganmu tidak membuat diriku baik-baik saja.

Padahal harusnya aku paham, kamu di sana sedang mengejar mimpimu, cota-citamu.

 

 

 

 

Kembali Asing

kita pernah saling, namun akhirnya asing

membuat mimpi-mimpi kita hanya menjadi puing

lebih-lebih karena obrolan kita yang berujung membuatku rungsing

kamu berutang rasa

akupun sama

bisakah kita kembali menuai asa?

diammu membuatku menunggu

mencari tahu kapan kita akan bertemu

tapi ya sudahlah, toh waktu akan berlalu

dan seandainya kamu untukku

kamu akan menemuiku.

Tak Pantas

Pada akhirnya, mengenalmu merupakan anugerah bagiku

Segala perbincangan yang telah kita obrolkan membuatku berfikir, kaulah?

Walaupun aku sendiri sangsi, karena gengsi kita yang saling tinggi. Tapi kita sama-sama tahu kita saling mengisi.

Inginku pergi, namun kau selalu tahu arti dari kata menarikku kembali.

Jika aku tak ada kabar seharian, kau kelimlungan, membuatku tersenyum tertahan, sudahkah kau nyaman?

Tapi satu, aku merasa tak pantas untukmu, entahlah.

M.e.m.o

Aku bukan orang yang pintar menuliskan rasa, payah ya aku.

Sudah sekian tahun berlalu, dan bayanganmu tetap ada. Tetap membekas, tetap menimbulkan getaran tersendiri.

2006 silam, hal yang nggak pernah aku lupakan, tahun itu…. indah. Terlalu banyak cerita dongeng di luar sana, tapi ceritaku saat itu ialah salah satu yang terindah. Perhatianmu nyata, senyummu juga.

Terutama, kamu. Hanya kamu saja. Tanpa temanmu, tanpa jabatanmu, tanpa semua yang kau miliki, hanya kamu dan aku. Berbicara tentang banyak hal yang sekarang saja aku sedang mengulang kembali percakapan kita.

Tentang kamu yang selalu mendengarku, tentang kamu yang selalu menerima usulanku, tentang hal yang aku ngga tau, mungkin aku terlibat kebaperanku sendiri.

Tentang semua hal kecil yang selalu kamu bincangkan. Terus terang, aku rindu.

Now…

Nikmatilah hari ini, lupakanlah esok kan terjadi.

Selalu di setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Momen-momen indah yang tercipta, kenanglah.

Usah memberi ruang untuk segala hal buruk, untuk apa kenangan indah kau campur dengan sesuatu yang menyakitkan?

Untuk apa?

Atas segala rindu dan segala temu, akankah penantianku sia-sia?