Sampai kapan?

Mau sampai kapan sih kita bertahan?

Bertahandengan ego kita masing-masing? 

Tak ada perubahan

Kita pecundang

Ego kita menang

 

 

Advertisements

tak sadar

2018 hampir berakhir, dan kau tahu?

mengisi blog ini saja bisa kuhitung dengan jari, maafkan aku.

sesungguhnya aku rindu menulis di sini, banyak kata yang tertahan hanya karena, aku merasa entah untuk menuliskannya

sehingga, kupikir lebih baik diam, ya, diam

entahlah, 2018 ini membuatku banyak bersyukur, atas tahun yang amazing ini, dan ya, terima kasih, telah mewarnai hariku.

terpuruk

bolehkah aku menangis untuk kali ini saja?

merasa tak kuat, tak punya kuasa untuk berdamai dengan apa yang sudah terjadi

jikalau harus ikhlas, mohon maaf aku belum bisa

egois

sangat egois

tapi, apa dayaku menghadapi semua ini

kupikir dengan aku pergi, akan membuatmu berpikir

nyatanya tidak.

 

Buh

Sepertinya kemampuanku menulis telah hilang

Buktinya tak ada satu tulisanpun tentangmu di sini

Ataukah semua itu terjadi karena hari-hariku begitu sibuk hingga tak mampu menuliskanmu barang sejenak?

Entahlah

Jangan paksa aku untuk mengartikan semua ini, apapun yang telah terjadi, tanyakan pada dirimu sendiri

Apa yang sedang terjadi dan apa yang sedang digariskan semesta?

 

Tabik

Menemukan dan tahu bagaimana caranya bertahan

 

 

Perihal kita yang saling menemukan, yang kurang ialah bagaimana cara kita bertahan

Bahkan, sampai detik ini pun aku masih akan menyalahkan diriku, kenapa aku perlu bertemu denganmu?

Kenapa harus berinteraksi sama kamu?

Kenapa harus aku?

Sekarang, aku tidak akan menahanmu, jika kau ingin pergi, pergilah. Karena ternyata aku lelah kau remehkan.

Dan, kita tidak ingin saling bertahan dalam ketidakpastian ini.

Jika memang suatu saat kita ditakdirkan bersama, biarlah itu menjadi rahasia Tuhan, dan biarkanlah hal ini menjadikan kita sebuah pelajaran agar kita tahu bagaimana caranya saling menopang dan bertahan

 

1509263631084

 

🙂

Rasa punya jalannya sendiri – fiersa

Screenshot_2017-09-20-07-54-53

Aku percaya kepada tuhan

Jika kamu memang untukku, kita didekatkan

Bagaimanapun kita saling menjauhkan

Bagaimanapun aku berhenti memimpikan kita

Anganku terdiam beku, tak mau kehilangan kamu

Kehilangan semua momen dan impian itu

Kamu harusnya tahu, aku menunggumu

Dan

Usaha kita melawan jarak akankah terhenti begitu saja?

Tolong, jangan pergi, jangan dingin dan menutup hati kembali

Tolong, jangan seenaknya pergi setelah pintu ini kau buka paksa

Aku lupa, entah kapan kamu memasuki pikiran

Berdiam dengan betah di alam bawah sadarku

Menertawakanku dengan rindu yang mencekik

Aku hanya tahu, kamu tiba-tiba ada

Aku percaya

Kamu tahu tempat tujuanmu pulang

Itu aku

🙂

 

Ps : entah terbaca sama kamu atau enggak. Aku menunggumu akhir bulan ini. Dan kebahagiaan bulan-bulan berikutnya. Aamiin.

 

 

 

 

I hate me

Tak ada satupun balas darimu

Pun jika ada hanya sepatah dua patah kata

Seolah, tidak menjadi prioritasmu saja belum cukup

Haruskah aku tak acuh denganmu? Agar skor kita satu sama?

Sepertinya begitu

 

Baiklah, kuikuti caramu bermain.

Tak usahlah kau bersedih dan sok repot membujukku yang merajuk. Aku diam.

Biarkanlah, pada akhirnya kita lelah saling memahami, dan memilih semuanya sendiri

Aku benci diriku

Yang tak pernah bisa jujur.

 

Pamit

Saya mulai mengerti, menjadi bukan prioritasmu, itu begini rasanya. Saya paham, saya bukan satu-satunya yang ada dalam pikiranmu, bukan pula yang pertama ada di kehidupanmu, tidakkah saya egois?

Segala kenangan tentang kita, masih terekam baik di otak saya, kini saya menyadari, merelakanmu adalah jalan yang paling tepat, walaupun kamu paham saya tersayat.

Tapi, untuk apa saya memaksakan kamu untuk memahami saya, memasuki kehidupan saya, jika semuanya aja sudah tidak ada gunanya, saya hanya terbayang masa lalu, dan kamu ya kamu adalah bagian dari masa lalu saya.

Saya merindukan kamu, walaupun text singkat yang saya kirim tidak pernah kamu balas, tawa ringanmu yang mendengar nama saya disebut oleh salah satu kawanmu pun tidak membekas apa-apa. Saya mengerti, saya bukan siapa-siapa.

Di titik ini, saya merasa lelah, saya merasa yang saya perjuangkan tak ada gunanya, saya menyerah, biarlah kamu bahagia dengan apa-apa yang kamu pilih, karena kamu tahu, saya hanya akan diam melihatmu dari kejauhan.

Ini bukan masalah menunggu dan ditunggu, siap dan tidak siap, kita bahkan sudah jarang menautkan tawa berbagi duka. karena saya dan kamu sama-sama sadar, bagaimanapun keadaan kita, kita tidak akan bersama.

Saya pergi ya, untuk menuntaskan rasa dan menyerah sama semuanya tentang kita.