tentang sebuah tulisan

Aku menyukai tulisan seperti aku menyukai seduhan teh pada pagi hari, kicauan burung yang bernyanyi, atau suara adzan yang menggema setiap pagi, membangunkanku dari lelap tidurku dan bergegas bercumbu dengan gemericik air pagi hari yang tentunya sangat dingin di cuaca yang sedang seperti ini. Tapi aku tahu, tak semua orang menyukai tulisan seperti aku memaknainya, ada kejujuran di setiap tulisan, ada keterbukaan di dalamnya, dan tidak ada kemunafikan, semua nyata adanya.
Aku menyukai tulisan yang penuh rahasia di dalamnya, di mana kau puas bermain kata-kata menjadikan beribu makna, dan membuat yang membacanya menjadi tersentuh, teringat akan kisahnya semasa lalu, karena tulisan bisa menjadi pengingatmu tentang kejadian apa yang terjadi di masa lalu. seperti sejarah, dan kau akan menemukan kotak harta karun di dalamnya, sesuatu yang begitu berharga yaitu tulisan.
Aku pernah mempunyai mimpi menjadi penulis semasa kecil dulu, dan seiring waktu berlalu impian itu berganti tanpa pernah terwujud, atau karena tak kucoba? ah, mungkin.

Engkau.

aku tak pernah tahu ada apa sebenarnya dan aku tak pernah tahu mengapa bisa terjadi. yang kutahu itu sudah digariskan dan bila kamu bersedia merubahnya maka itu akan berubah, mengikuti kemana kamu melangkah. akupun tak mengenal kamu, tak mengerti kamu, tapi aku tahu aku harus mengikutimu, karena dengan begitulah aku tak lagi mati, semua yang aku inginkan bisa terpenuhi. tujuanku dalam hidup ini bisa termaknai,

kamu mengerti bahwa aku harus merubah semua ini, entah bagaimana caranya, tapi aku harus. ya aku harus. paksalah aku sekali ini, disaat keenggananku melakukannya. karena semua orang menanyakanku, aku terlalu menutup diri di tengah hingar bingar dunia yang fana ini. aku tak mengerti mengapa aku begini, dan aku pun tak tahu. ada apa sebenarnya ini. yang kurasakan ialah hampa. bukan kenyamanan atau ketentraman. 

kamu tahu seharusnya kemana aku melangkah, karena semua yang terjadi padaku ialah sepengetahuanmu. apapun itu. tolong, jangan bikin aku kehilangan arah. 

janji pertemanan

kita pernah saling mengenal, saling berbagi dan saling berjanji

kita pernah saling menyukai, saling mencemburui, bahkan saling peduli

hal-hal yang kita lalui dengan sederhana tanpa ada pernyataan di dalamnya

hal-hal yang kita lalui berbeda dengan yang lainnya. 

tapi, ternyata hal itu pun tidak pernah membuat kita bersama.

apakah, kita?

satu hal yang pasti kita sama-sama tahu, perasaan itu ada. 

tapi, kenapa kita hanya diam? membiarkan ia pergi dan berganti?

seperti bunga yang berguguran karena musimnya. 

kau pun pergi dan tak kembali. 

ingatkah kamu? kita pernah mengukir janji bersama. 

janji pertemanan. :’)

FF – Janji Bertemu

ERINA DAN KARYA

“Hai, kita akan bertemu lagi, aku janji aku akan sering menemuimu di sini”. “kau yakin tak akan melupakanku?”. “Yakin, kenapa engga? Karena kamu sudah memikat hatiku, aku tak akan meninggalkanmu”.  “baiklah, aku akan menunggumu, sampai kapanpun, jangan pernah lupakan aku ya, karena aku mempercayaimu”.  Setelah percakapan itu kita berpisah, berpisah untuk waktu yang lama, selama 6 tahun bersama, selalu menemani saat suka atau duka dan tiba saatnya ia harus melanjutkan pendidikannya di kota lain, aku tak bisa mencegahnya, selama itu untuk kebaikan dia aku akan terus mendukungnya.

Dua bulan kemudian ia pulang, tapi hanya sebentar, menemuiku untuk memberi kabar bagus, dia di terima di PTN pilihannya. Aku mengucapkan selamat, aku yakin dia akan bisa melewati ujian-ujian itu karena dia pintar. Sayang, kebersamaanku dan dia hanya sebentar, karena dia harus mengurus verifikasi kampusnya. Kulepas lagi kepergiannya dengan berat, semua orang tahu, aku bersedih.

Setelah itu, tak pernah kudengar kabar darinya, ia…

View original post 186 more words

FF – Janji Bertemu

“Hai, kita akan bertemu lagi, aku janji aku akan sering menemuimu di sini”. “kau yakin tak akan melupakanku?”. “Yakin, kenapa engga? Karena kamu sudah memikat hatiku, aku tak akan meninggalkanmu”.  “baiklah, aku akan menunggumu, sampai kapanpun, jangan pernah lupakan aku ya, karena aku mempercayaimu”.  Setelah percakapan itu kita berpisah, berpisah untuk waktu yang lama, selama 6 tahun bersama, selalu menemani saat suka atau duka dan tiba saatnya ia harus melanjutkan pendidikannya di kota lain, aku tak bisa mencegahnya, selama itu untuk kebaikan dia aku akan terus mendukungnya.

Dua bulan kemudian ia pulang, tapi hanya sebentar, menemuiku untuk memberi kabar bagus, dia di terima di PTN pilihannya. Aku mengucapkan selamat, aku yakin dia akan bisa melewati ujian-ujian itu karena dia pintar. Sayang, kebersamaanku dan dia hanya sebentar, karena dia harus mengurus verifikasi kampusnya. Kulepas lagi kepergiannya dengan berat, semua orang tahu, aku bersedih.

Setelah itu, tak pernah kudengar kabar darinya, ia melupakanku. Aku bertemu kembali dengannya di “facebook”, tapi sikapnya tak lagi sama, menyiratkan ia tak ingin bercakap denganku, aku pamit, undur diri dengan hati yang remuk redam. Percuma sudah menjaga hubungan selama 6 tahun ini. Rindu ini terabaikan sudah, sia-sia aku menantinya, menunggunya kembali untuk menemuiku di sini. Tapi aku begitu terbutakan olehnya, aku tetap menunggunya di sini, di kota ini, dan yakin dia akan menemuiku lagi, kenangan yang terukir selama 6 tahun tentu tak akan hilang begitu saja.

Kucari tahu penyebab ia menjauhiku, dan aku merasa ini karena berita-berita di luar yang tidak begitu bagus tentangku, aku tak tahu, ia mendengar gosip murahan itu dari mana, karena yang aku lihat, ia membelaku habis-habisan di depan teman-temannya. Setelah itu, ia meminta maaf, karena telah mengabaikanku, dia mencari pembenaran, bukan karena dia tak mempercayaiku, namun dia mencari alasan untuk lebih percaya denganku dan ia berjanji setelah urusannya di kampusnya selesai, ia akan kembali menemuiku di sini, di ma’had al-zaytun.  

 

FF ini dari judul lagu “KANGEN”, nyambung gak sih?  Karena aku merindukan tempat itu, tempatku menuntut ilmu selama enam tahun, kenangan yang terukir di sana, abadi. 

FF – Hadirmu di siang hari –

aku masih menunggunya, menunggunya untuk kembali, ke kota ini. menemuiku? ah mungkin itu tujuan terakhirnya, karena ia akan lebih mementingkan pekerjaan daripada bertemu denganku. biasanya, sebulan sekali ia akan mengunjungiku, namun aneh, sudah menginjak bulan ke tiga ia tak juga nampak di hadapanku, dan aku selalu berpikiran mungkin ia sedang sibuk dengan dunianya.

hari berganti, aku merindukan sosoknya yang menurutku misterius, ia tidaklah rupawan, namun berkharisma, dan aku hanya bisa melihatnya dengan malu-malu di kejauhan, tak pernah terbersit untuk menyapanya, terlalu pengecut memang. sudah menginjak bulan ke lima, tak juga kulihat sosoknya menemuiku, dan aku hanya terus menunggunya, karena aku yakin, tak lama lagi ia akan datang untuk mengunjungiku.

ketika sedang asik menjahili teman-temanku, dari kejauhan kulihat ia datang, dengan wajah muram. bukan wajah ceria seperti biasanya, akupun terpaku. terfikir untuk menghiburnya dan mengembalikan keceriaan yang hilang, tapi aku hanya diam, aku tak mampu melakukannya, bahkan mengucapkan “hai” saja aku tak berani. aku terlalu takut untuk mengejutkannya.

akhirnya kuputuskan untuk menyapanya, segera saja aku mengagetkannya, melihat sosokku, ia pun tersenyum dan berkata “terimakasih angin, kau telah datang di siang yang terik ini” aku pun menyambutnya dengan gembira.

by : @erinajulia
*lagi belajar bikin FF, maaf kalo masih belepotan dan belum menjadi perangkai kata yang baik*

kepalsuan

semua tak sama, tak lagi sama
sapaan pagimu, senyumanmu
tak pernah sehambar itu
bahkan kau pun tahu, itu palsu.
percuma kau berkata iya
saat hatimu melantangkan kata tidak
tak perlu dipaksakan
aku pun mengerti
tak butuh rasa kasihanmu
aku bisa berdiri
hingga saat ini
tegar
dan tak pernah terjatuh lagi.

by : @erinajulia