Maafkan Aku

Kau yang kukenal dulu, hanyalah seorang anak kecil yang masih suka bermain
Kau yang kukenal dulu, hanyalah seorang yang sedang mecari dunianya
Kau yang kukenal dulu, tak pernah sependiam ini
Kau yang kukenal dulu, adalah seorang yang tak pernah mengenal malu
Kau yang kukenal dulu, adalah seorang yang selalu asyik untuk berbagi canda
Kau yang kukenal dulu, adalah seorang yang mampu membuatku melakukan permintaanmu
Kau yang kukenal dulu, menyapaku dengan ramah dan asyik saat kita berbincang di YM
Kau yang kukenal dulu, ah…
Kau…
Sebelum hal itu menjauhkan kita
Sebelum semua itu membuat kita jadi tak bertegur sapa
Sebelum semua itu membuat kita tak saling mengenal
Sebelum semua itu menghilangkan canda tawa kita
Terus terang, aku menyesal.
Hari ini, melihatmu tanpa senyum untukku
Hari ini, kau bahkan tak perlu repot-repot bertegur sapa seperti yang biasa kita lakukan dahulu
Hari ini, kau bahkan hanya sekedar berbasa-basi dengan pertanyaanmu
Hari ini, kau hanya menyapa temanmu, tanpa sedikitpun menyapaku yang jelas-jelas berada di situ, hei, bukankah aku juga temanmu?
Dan
Bahkan hari ini kau tak mengijinkanku lagi untuk memasuki duniamu selamanya
Tembok itu ada,
Berbagai cara aku lakukan untuk meminta maaf darimu
Bahkan kau tahu hal konyol yang aku lakukan -_-
dan? Katamu kau telah memaafkanku, tapi aku tak melihat itu.
Nol besar.
Apakah aku keterlaluan?
Apakah yang aku lakukan dahulu telah menyakitimu?
Apakah aku kelewatan?
Karena kali ini kau yang sangat keterlaluan.
Maafkan aku, teman.
Atau jika aku tak layak untuk di sebut temanmu lagi
Maafkan aku, kak. 

Rindu Ini

Rindu ini menggigit dan juga tercubit, ia sakit
Rindu ini payah, ia terbiarkan tumpah, ke segala arah
Rindu ini menggebu, datang dengan buru-buru membuatku tersipu
Rindu ini mengerang, ia senang, karena rindunya terkenang
Rindu ini dahsyat, ia terkuat, membuatku terjerat
Rindu ini tersapu sauh, ia jauh, hingga ku berpeluh
Dan hanya aku, yang merindukanmu seperti ini.

letter to you

Selamat malam, tuan
Senja menapaki dunia, tapi kita tak pernah menapaki mula
Bahagiakah dirimu, tuan?
Melihatmu bersamanya, melihatmu tertawa, melihatmu tersenyum
Aku tak pernah tahu, apa yang sudah terjadi antara kita
Bolehkah aku menganggap tak pernah ada dan tak pernah mengenalmu sebelumnya
Atau mungkin kita tidak ditakdirkan bertemu
Karena berkenalan denganmu tak pernah terlintas dalam kamus hidupku sebelumnya
Bagaimana bisa, kau menyakiti untuk yang kesekian kali
Bahkan sekarang, aku tak bisa mempercayai seorang lelaki seperti dulu aku mempercayaimu
Puaskah kau telah mengulang kebullshitanmu lagi
Benci?
Tidak, aku tak pernah membencimu tuan, bahkan sekarang setelah semua yang kau lakukan kepadaku
Aku hanya, hanya tak ingin mengenalmu lagi dan mungkin untuk selamanya
Lembaran kisah kita sudah aku buang bahkan sebelum aku membukanya dan menuliskannya
Menuliskan kenangan indah bersamamu, asam manis kehidupan yang kita jalani
Atau cerita tentang kita yang harus terkenang, tidak
Dan, untuk sekarang aku tak mau membuka hati untuk siapapun lagi.
Karena aku tak mau merasakan sakitnya lagi, tidak, aku tidak siap
Terimakasih tuan, telah memberikan buku kosong dan maaf aku telah membuangnya beserta kuncinya
Kau kehilangan lagi, tuan.
Mudah bagimu bukan? Mengumbar janji indah dan kemudian pergi dengan jumawa 

selamat pagi, Tuan

Tuan, selamat pagi, selamat jatuh cinta (lagi)
Pagi ini beda dari kemarin, sayang
Kenapa?
Karena mulai pagi ini kau akan belajar mencintaiku
Lagi dan lagi
Karena mulai pagi ini kau akan belajar menyayangiku
Lagi dan lagi
Karena mulai pagi ini kau akan belajar memahamiku
Lagi dan lagi
Begitupun diriku, tuan.
Belajar untuk slalu menjadi lebih baik di depanmu
Lagi dan lagi
Belajar untuk lebih mengerti tentang hidupmu
Lagi dan lagi
Belajar untuk lebih tahu apa yang kau sukai atau tidak
Lagi dan lagi
Belajar untuk memasrahkan dan mempercayakan hidupku kepadamu
Karena kaulah sebaik-baiknya imamku, tuan.

Maafkan aku, Tuan.

Selamat siang, tuan

maaf, suratku mengganggumu beraktifitas, lagi dan lagi. ah, hidupku selalu saja mengganggumu ya?
dulu kau tak merasa terganggu dengan sepucuk surat yang kukirim, atau chat yang kukirim, kau selalu membalas pesanku di sela kesibukanmu, dan bahkan kau sering lebih dulu bertukar kabar kepadaku, saat itu indah, kan? atau hanya perasaanku saja yang mengatakan demikian? entahlah. semakin ke sini kita semakin jarang untuk sekedar sapa, apalagi menanyakan kabar dan kalimat-kalimat klise seperti biasanya, kita terlalu kaku, terlalu asing untuk saling mengenal lagi dan lagi.

jarak bukan masalah katamu di awal dulu, dia bukan penghalang besar, karena dia bisa dikalahkan temu, tapi kenapa akhir-akhir ini kau membahas lagi hal yang pernah kita sepakati untuk tak kita selisihkan? manusia memang berubah dan kamu sedikit demi sedikit berubah ke sana, dan aku harap ke arah yang lebih baik. ah ya, dan aku mengerti bahwa kamu semakin bingung dengan adanya aku, adanya kita. kita selalu berbeda, katamu. aku tak selalu mengerti dengan perbedaan yang kau maksudkan. jelas berbeda, karena kita adalah lawan jenis, hei, kau tak memaksudkan untuk kita sejenis kan? -_-

aku mendiamkanmu dan mulai memerhatikanmu dari kejauhan karena tak mau mengganggu rutinitasmu, kerjaanmu yang menyita waktumu, dan kenapa kau bisa betah untuk tak bertegur sapa denganku? tak seperti biasanya, dan, apa yang aku pikirkan benar. karena kau mulai betah untuk memberikan kabar dengan yang lainnya. sampai titik ini aku bingung, speechless dan mati langkah di saat yang bersamaan, tapi, sekali lagi, aku tak pernah mau terlihat lemah di depanmu, oh bukan hanya di depanmu saja, di depan siapa saja tentunya.

kau mengatakan aku sangat sabar menghadapimu, ah bahkan akupun merasa tidak sesabar itu, kenapa aku mendiamkanmu? itu adalah salah satu bentuk dari ketidaksabaranku untuk selalu memperhatikanmu.

percakapan kita menjadi asing karenanya, bahkan menjadi tanpa nyawa, aku bahkan tak merasakan suatu apa. kau selalu bilang padaku bahwa kau tak seperti mantan kekasihku yang lalu, tapi apa? bahkan di titik ini pun, aku sudah tak mempercayaimu bahwa kau berbeda dari dia. percuma. kecuali kamu merubah sikapmu dan kembali pada komitmen awal kita, yang bertujuan.

ah, aku terlalu egois ya? terlalu meminta sesuatu yang rasanya mustahil juga, tapi kau terlalu plinplan untuk memutuskan, bolehkah aku yang mengambil sikap? tentunya kau tau sikap apa yang akan aku ambil, aku akan pergi dan tak akan mengganggu kehidupanmu lagi,
kesempatan ini sudah kedua kali, dan sekali lagi, aku tak akan pernah memberimu kesempatan itu lagi. sudah cukup, terbohongi olehmu, dan sudah cukup pula aku membuka hati, sudah terlalu lama aku biarkan ia tersakiti, ada baiknya kini ia menutup rapat selamanya, hingga ada seseorang yang bisa membukanya lagi. atau ketika ia sudah terlalu lelah untuk menghadapi dunia sendirian.
kau mengenalku dengan baik tuan, dengan segala keras kepalaku dan segala keegoisanku, atau dengan segala gengsiku, maaf.