surat kaleng dan kamu

hei, surat kalengku tak pernah sampai kepadamu kan?
hahaha
itu tandanya tuhan masih merahasiakan dan belum memberikan restunya kepada kita
akankah semua itu berujung duka?
akankah penantianku selama ini sia-sia?
ataukah hanya khayalku saja yang menginginkan kamu dan aku menjadi kita?
tak mau!
aku tak pernah bisa merelakanmu untuk siapapun.
iya, kamu tau betapa egois dan keras kepalanya aku kan?

tunggulah, tunggulah saat yang tepat, saat aku dan kamu dipertemukan lagi.
menunggumu 10 tahunan saja aku mampu, apalagi sebentar lagi?

aku terlalu memaksakan semesta ya?

tapi, aku begitu takut kehilangan. begitu tak mempercayai drama kehidupan
aku, terlalu naif untuk mau mengerti, kisah kita tlah lama usai
bahkan sebelum dimulai.

Advertisements

pisah?

jika aku dan kamu sudah pernah menjadi kita
percayalah
akan ada banyak teman di kehidupan yang akan datang
tak selamanya berpisah itu bermusuhan kan?
entah,
melihatmu aku merasa entah

melupakan semua kesalahan lalu, kita rajut lembar baru
tapi kenapa sepertinya kehidupan tak mau buru-buru
kita sama-sama telah gagal dalam menjaga “kita”
akankah bisa semua kembali seperti semula?

kamu dan kehidupanmu, begitupun aku dan hidupku
keduanya tak mau menyatu, tak cukkupkah engkau memberikan sedikit torehan luka?
harus sampai kapan aku memberikan pemakluman-pemakluman atas sikapmu?
tolong,
jangan kembali lagi sekarang
aku sedang belajar mengikhlaskan,
aku sedang sendirian, tak ingin membuka pintu untuk orang asing, tapi kamu bukanlah orang asing.
bahwa ternyata kesendirian tak selalu menyakitkan.

aku.
yang tak pernah bisa kembali ke masa lalu.

masa lalu?

kamu pernah mengingatkanku untuk tak lupa menyayangi
kamu pernah mengingatkanku untuk tak lupa membahagiakan
kamu pernah mengingatkanku untuk saling mendoakan

kita, pernag berjanji akan ada masanya nanti untuk bersama
kita, pernah merajut mimpi berdua
kita, pernah dicemburui jarak yang selalu tak berpihak

kita sama-sama percaya,
bahwa akan ada saatnya nanti kita menghabiskan waktu berdua
bahwa waktu-waktu yang kita miliki selalu ada dalam ingatan
bahwa tak terhitung berapa banyaknya doa disetiap sujudku

kita pernah saling berjuang,
memperjuangkan kita hingga lelah mendera
memperjuangkan bagaimana aku dan kamu mengukur jarak
berpikir, bahwa kita hanya berpisah tempat, bukan waktu

kamu, selalu semua tentang kamu.