Pamit

Saya mulai mengerti, menjadi bukan prioritasmu, itu begini rasanya. Saya paham, saya bukan satu-satunya yang ada dalam pikiranmu, bukan pula yang pertama ada di kehidupanmu, tidakkah saya egois?

Segala kenangan tentang kita, masih terekam baik di otak saya, kini saya menyadari, merelakanmu adalah jalan yang paling tepat, walaupun kamu paham saya tersayat.

Tapi, untuk apa saya memaksakan kamu untuk memahami saya, memasuki kehidupan saya, jika semuanya aja sudah tidak ada gunanya, saya hanya terbayang masa lalu, dan kamu ya kamu adalah bagian dari masa lalu saya.

Saya merindukan kamu, walaupun text singkat yang saya kirim tidak pernah kamu balas, tawa ringanmu yang mendengar nama saya disebut oleh salah satu kawanmu pun tidak membekas apa-apa. Saya mengerti, saya bukan siapa-siapa.

Di titik ini, saya merasa lelah, saya merasa yang saya perjuangkan tak ada gunanya, saya menyerah, biarlah kamu bahagia dengan apa-apa yang kamu pilih, karena kamu tahu, saya hanya akan diam melihatmu dari kejauhan.

Ini bukan masalah menunggu dan ditunggu, siap dan tidak siap, kita bahkan sudah jarang menautkan tawa berbagi duka. karena saya dan kamu sama-sama sadar, bagaimanapun keadaan kita, kita tidak akan bersama.

Saya pergi ya, untuk menuntaskan rasa dan menyerah sama semuanya tentang kita.

 

 

 

 

Advertisements