kepergianmu

dua tahun setelah kepergianmu, aku benar-benar merasa kehilangan. aku benar-benar merindukanmu sekarang, rindu segala hal yang berkaitan tentang kamu, bahkan kemarahanmu pun aku rindu. dua tahun sejak kepergianmu, tak pernah ada yang benar-benar mengisi hariku, entah aku yang terlalu mengunci pintu terlalu rapat atau karena aku sudah merasa lelah untuk memulai fase yang sama lagi seperti mengenal orang yang baru, menceritakan tentang diri dan kegiatanku, atau membuat komitmen untuk bersama, lagi. aku udah ga percaya sama semua omong kosong itu, maka aku lebih memilih untuk tidak memikirkannya saat ini. belum perlu, toh semua akan pergi pada saatnya, untuk apa aku capek-capek membuka pintu jika bukan ia yang kutunggu untuk selalu pulang ke rumah?

aku bodoh,

bodoh karena membiarkanmu pergi, bodoh karena tak pernah menahanmu untuk tetap tinggal, bodoh karena hanya gengsi dan emosi yang menguasaiku. bodoh karena sekarang aku seperti orang bodoh yang merindukanmu setengah hidup. bodoh, karena menahan diri untuk tidak mengirimkan message chat “hai, apa kabar?” hanya karena aku malu, malu kau tertawakan betapa bodohnya aku jika sedang merindu.

aku lemah,

lemah karena tak pernah kuat untuk mengikatmu ke dalam pelukan, lemah karena tak pernah mampu mengucapkan satu kalimat yang selalu kau harapkan, lemah karena aku terlalu memikirkan banyak “bagaimana jika”, dibanding kulakukan saja apa yang diperintahkan otakku, lemah karena tak pernah bisa dengan kuat meyakinkanmu untuk selalu di sini, di sisiku.

puas kau tertawakan aku sekarang?

Advertisements